Just can not talk this...but I can feel it...I can't stop it except I write over it...
Hope this could be useful for both of you my lovely daughters, that Mom can't talk about it right now to you. This,is for myself-healing.
Coba yach, keluar gag nich, link or embednya, mudah2an....
horeeee...berhasil ! lagi ach....ini lainnnya :
(lgi asyik ngerumpi di pojokan)
(perhatian terbagi, antara liat ke depan atau ke samping, abis yg motoh ada 2 :D)
(Nah, ini versi lengkapnya, minus 3 or 4 org yg udh pulang duluan)
(getting closer)
(more attention please, di pics ini, ada sedikitnya 2 sesepuh blogger terkenal lohhh & 2 seleb blogger)
Wokeeeh, segitu cuplikannya dari blognya mbak Perempuan Api di multiply yang saya embed. Kalo mau lainnya, ya liat tulisan sebelum ini dengan labels sama.
Meet with all of Friends is always make this life happy, the day became brighter **gak lebayyy!** Don't know how if live without them, possibly almost nothing.
Ya, bertemu teman, teman dekat, teman baru ketemu, teman baru kenal, apalagi teman yang udah lama gag ketemu, pasti selalu menyenangkan **Why suddenly I remembered You, heyyy..where've you been? I miss you my dear friend...you dissappear like bubble on the air...why there's none notif on fb...and that number phone isn't valid anymore...It's finally the time I meet all of the friends at the ngerumpi, you know that it's only you who could understand the feeling of this happy feeling...if you read this, please come to the place you know-everyday I wait for you there, but you never make your ID online... :(**
4 & 5 Sept kemarin, so many thing I haven't write on this. Cuappek poll **like you always said, if you came from WP's project, remember?** baru sekarang sempet nulis.
Tgl 4 Sept, weh, lumayan bingung, jadi dateng gag ya...abis deg2an, gag ada yang dikenal banget, semuanya temen virtual, bahasa diksi & bahasa tubuh, jauuuuuh berbeda pastinya. Dan itu yang membuat saya sampai siang masih menimbang2, dateng atau enggak. Sekalipun di "rumah maya ini" sudah lumayan mengenal sedikit2 karakter mereka, tapi di kenyataannya, bisa saja berbeda 180 derajat, kan...and what if they are really not welcome coz I came from their outside sociality. But...not me, who doesn't like a challange. I always said to my self - "Why don't you try?" - then...voila! there I was in the Buk-Ber yang bukan Grand Launching ini. Lumayan seru khan, ternyata ? ini baru sebagian kecil foto-fotonya. Coba cek blog perempuan api ini, ada lebih banyak foto bareng. (Trims ya, mbak Yati ).Sayang gak terlalu semua bisa diakrabi, ya karena baru pertama banget, pengennya kalau ada kesempatan lagi bisa ngumpul bareng, next time will be better. You know what, I really remember you when I was in the car - pengennya nulis status : senengnya, jadi ketemu bareng temen2 di ngerumpi :) :) - but... instead of you will read it, probably NOT ! Hubby pick me up (of course, if I don't want to, how would I go to there).
Tgl 5 Sept, ketemu ibu2 rumpi eeh maksudnya temen2 tapi emang ibu2 semua, ya dimana lagi kalo bukan di MP. Menyenangkan juga dong, of course. Kalo yg ini, there's alot of : "HEEYYYY....APA KABARRRR...**Cipikah Cipikih** and little2 komentar:kurusan euy...atau mening geulis pisan sekarang... (wheee, kalo ini saiah yg dibilang begitu :P)**. Terus, so pasti, karna kalo ibu2 tuh, udah ostosmastis potluck, jadi, meja makan dari ujung ke ujung isinya makanaaaaaaaaannn semua, ampe sebenernya, gag ada tempat lagi buat naro' !. Ada Nasi timbel, karedok, ayam bakar kecap, udang balado, sambal goreng ati kentang, rendang daging, mie goreng 2 versi, bihun goreng, terus ada baso komplit mie, bihun dkk, Soup cream jagung, makanan kecil lengkap : donat, risoles, kue lumpur, puding caramel, puding buah, tart mini potongan,kue2 manis, gorengan, Es buah 2 versi ( salah satunya es buah susu, saiah yang bikin dari siang, sekalian buat bagiin ke mesjid)...trus apa lagi ya...wuihhh, poko.e puyeng dah liatnya, ampe udah kenyang duluan ! Untung inget kalo lom makan, dan harus makan, jadi gak mau liatin lama2, mending dimakan ajahhh, ntar keburu kenyang cuma liatin doang :P. Tapi sayang, pas ada sesi bungkus membungkus, lha ada yg motoh, aku inget mau keluarin kamera, tapi tangan lagi belepotan abis ngambil sup krim buat dibungkus bawa pulang :(( :(( **nangis dalem hati** Mudah2an pas halal bihalal bisa ketemu si ibu potoh, kan blom sempet kenalan, anaknya gak sekelas syifa or tisha.
Hhh...poko.e alhamdulillah-alhamdulillah-dan alhamdulillah ya Allah, atas semua karuniaMu. Hari ini juga hari pertama sahur lagi, sholat subuh lagi & tadarus selepas subuh, alhamdulillah.
What is the agenda of today? silaturahmi lagi sepertinya. Kali ini, siang mau ke matu dulu deh. Udah lama juga blum kesana lagi. Next week, mudah2an gak ada halangan mau ngerayain ultah di Pibo or Puloasem-insya Allah masih dikasih umur, amiinn.
Lumayaaan, masih ada ide & inspirasi muncul, walau kadang gak greget pas udah nulis, tiba2 blank....tau knpa akhir2 ini agak susah, gak fokus...penyakit lama gw mulai muncul di pikiran & mengganggu - sangat !
yach, segitu aja sich, lagi nunggu imel-nya ssorg, kok gak ada jwbn satu juga ya...hmm, beginilah, kalo lagi mau maju, jalannya susah banget, ada aja halangannya...Tetap SEMANGAAAAATTTTTT !!!!!
Healah, aku kok lali yo, tadi mau urus omahku dewek, langsung log-ot aja, abis dari ngerumpi dot com.
Iya, pagi ini udah tak posting ceritanya Mas Ar & udah minta ijin juga ama Mb'Nie pas kemaren2 sms, tapi akunya masih nemu ide2 lain yang pengen aku tulis hari itu, jadi cerita ini aku pending. Oya, yg cerita kemarin juga gak jadi aku posting disana, kayaknya kok aku gak sreg, ya mending di pasang di rumah sendiri aja. Pengennya ada yang mau aku ungkapin lagi dari cerita yang ini :
http://bunhoneysblog.blogspot.com/2009/07/is-that-work-of-art.html, masih ada satu ide yang mau aku sampaikan, tapi gak jadi, terlalu saklek - terlalu aku banget. Terkadang memang hidup gak bisa cuma dipandang sebagai hitam dan putih, tapi makin bertambah umurku, aku semakin bisa melihat sisi indahnya 'warna keabuan' tidak jelas putih tapi juga tidak terlalu dominan hitamnya. Makin banyak aku 'belajar' ,semakin aku terombang ambing dengan pemikiran2ku sendiri demi mencari garis tengah dari semua persoalan, untuk menuju sikap bijaksana. Rasanya sampai ajal menjemput, hal itu tak akan pernah aku tuntaskan.
Cerita mereka aku rasa penting aku share, mudah2an gaya tuturku bisa menyampaikan maksudku, membuatnya tidak kehilangan makna dan tidak menggurui siapapun. Jadi ingat pas sms-an tempo hari, ngejelasin blog itu apa, portal ngerumpi itu apa, hahaha, lucu deh si Mb'Nie. Wajar aja sih, kebingungan, lha fesbuk aja, baru ngerti dari si eko. Tapi aku juga gak becus kali nerangin, jadinya dia cuma 'ooo,itu he eh, terus aku liatnya dimana ?' **gubrakkk!** Akhirnya dengan hopeless campur jawa seadanya, aku bilang aja gini : "Yo wis tho mba, sing percaya ama aku, wis melu aku wae, pokok'e mba ndak keberatan tho, kalo namanya mba gak aku sebut ?" hihihi,maksa banget deh, kebiasaan **dasarrr!**
Kepancing sama status temen di fesbuk, kira2 dia nulis begini : ...sedang belajar mencintai pekerjaan 'mencintai'
Hemmm, coba berhenti di kata2 'pekerjaan mencintai' - yang mengusik saya, ternyata kok baru nyadar ya, kalau mencintai itu adalah sebuah "pekerjaan" artinya dibutuhkan effort, dan spirit kalau kita ingin mencintai seseorang, which is nantinya mereka akan balas mencintai kita.
Ya eyyalaa, trus apanya yang menarik ? Menariknya, kadang kita secara tidak sengaja, membiarkan perasaan cinta itu pergi berlalu begitu saja, karena kurang usaha dan semangat untuk tetap mempertahankannya. Ini gak berlaku cuma ke pasangan, yang saya maksudkan disini adalah general, cinta ke pasangan, cinta ke anak, cinta ke pekerjaan, cinta ke orangtua, dll (termasuk cinta ke selingkuhan ? errr...LOL)
Semuanya juga pasti sepaham,kalau punya perasaan cinta, tidak bisa cuma dipendam dalam hati tanpa ada tindakan nyata yang berarti. Ke suami/istri/pacar, kalo cuma bilang cinta doang, emang bakalan jalan begitu aja suatu hubungan tanpa ada effort2 berarti, perhatian2 yang sifatnya bukan basa basi, tapi nyata untuk kebahagiaan pasangan, betul khan ? Untuk hubungan yang sudah lama juga, harus ada 'pupuk2' cinta supaya tumbuh lagi 'tunas2' baru, yang membuat hubungan gak monoton. Cinta ke anak, ini sih, lebih2 lagi, harus 95% tindakan nyata, baru yang 5% ungkapan2 verbal yang gak basa basi. Pengorbanan tanpa pamrih, judulnya. Ke orangtua juga idem dito, cuma telpon2 doang, bilang kangen -padahal jarak cuma beberapa kilo- ya, gimana mau dibilang anak yang cinta orangtua, ya? kecuali beda kota, beda negara, ya lain cerita.
So, pesan moralnya adalah , Cintailah yang sah-sah saja, cintai yang boleh kau cintai, cintai yang membawa kebaikan buat diri dan orang2 tercinta. Karena, mencintai itu adalah suatu "pekerjaan" yang butuh waktu, usaha, pengorbanan, sehingga kalau nantinya kita gak mau usaha kita sia2, ya berfikirlah dua kali untuk mencintai hal2 atau orang2 yang gak halal buat kita :D
Healah, muter2 dari tadi ternyata cuma mau bilang, jangan mencintai selingkuher anda !
Kebayang gak, udah kita capek2 usaha ini-itu, eh jatoh2nya sia2 karena kita salah "usaha" ke orang :D Lha, miara selingkuhan juga butuh effort lho, emang mau, di-aku selingkuhannya si om A, tapi dia gak pernah kasih perhatian, nelpon jarang, sms kalo sempet, ketemuan kalo bisa kucing2an ama bini, Yaach...males banget gag sih, dicuekkin gituh, rugi ya ? bwahahahhaa **dikeplok ama batok kelapa** Lha, makanya om, gak usah selingkuh kalo gak ada waktu **grrr...:D**
I had to leave you on the hospital, the swine flu seems like my nightmare
Thank You Lord
Pagi sekali kuhubungi pihak rumahsakit, karna semalam ku sudah terlalu lelah. Tak mau kuijinkan tubuhku letih terlalu, sebab virus bertebaran dimana-mana. Begitupun yang sedang menggerogoti kesehatanmu saat ini.
Suara telepon di seberang sana baru saja diangkat,
“Halo selamat pagi, bisa disambungkan dengan suster di paviliun melati ? – Terimakasih”
“Pagi, Melati”
“Pagi Suster, saya mau menanyakan hasil lab pasien kamar 5** -apa sudah turun?”
“Oh,ya Bp LP Laksana, sudah bu…”
“Bagaimana hasilnya, Sus – apa sudah dilaporkan ke dokternya – apa hasilnya, virus apa?”
Terdengar suster membacakan hasil laboratorium yang tertera, tak ada satupun yang berarti yang perlu kukhawatirkan, begitu pula hasil USG Abdomen, semua masih bisa dibilang dalam batas normal.
**Alhamdulillahirrabbil alamiin** Tak ada kata lain yang mengisi kepalaku pagi itu selesainya suster membuat kesimpulan sementara, yang kuharap sangat menjadi kesimpulan tetap. Berarti kecemasanku semalam tak ragu lagi harus kuhilangkan dari kepalaku.
-at Sunday morning 7 am-
When at the dawn I woke up after I had a dream about us, separated for a while, I lost in direction, but you came back and I was so released.
Posting satu tulisan yang aku ketik diatas tempat tidur rumahsakit, nemenin kamu :(idenya muncul pas sabtu sore, aku masih gag konsen sama diagnos dokter)
Berapa minggu sudah kita putuskan hal itu,ya ? -khamu masih ingat ?- aku berusaha tak mau mengingatnya. Kapanpun itu, yang jelas sudah mengubah segalanya sekarang -menjadi lebih baikkah?- kuharap begitu. Ingin rasanya menghubungi kapanpun disaat kuingat, tapi...rasanya kok jadi semacam 'obligation' tak tertulis, dan aku gak mau lagi memulainya. Cuma off-line message yang kadang muncul, disini atau disana. **masih buka kok, tapi sekali2 aja, lagi repot banged De..** Ah, ya -kesibukan kita, yang sebenarnya masih sama seperti kemarin-kemarin- kini sudah bisa kita pakai sebagai "senjata" ampuh untuk menghindari segalanya seperti dulu. Merasa terselamatkan ? kalau aku, entahlah... Aku yang terlalu well organized memanfaatkan waktu, hingga serasa masih banyak waktu tersisa untukku sendiri, atau memang akunya yang mbandel, gak mau berusaha kuat menghilangkan segalanya. I don't know... Kucoba melarikan diri dengan semua hal positif yang kubisa, sekuat tenagaku, demi melupakan sesuatu yang membuat wanita lain merasa terancam. Aku selalu berusaha memposisikan diriku seperti dirinya. Pasti aku akan jengah juga. Tapi, belakangan, kuyakinkan diriku dengan kenyataan ini - sepertinya hal itu tidak terlalu berharga untuk kufikir, kurasa, kurindu, kuharap, kunanti...- karena memang dia sudah bisa melupakan si puteri pemimpi, bukan ? Ach...puteri, kurasa kini benar-benar saatnya kau akhiri mimpi2mu itu, karna dia sudah bisa melepasmu, mengikhlaskanmu mungkin untuk bukan jadi milik hatinya. ** Aku melihat air mata puteri pemimpi meleleh, kemudian pelan dia terisak...akhirnya sesenggukan, menyesali mengapa ia begitu bodohnya masih tak bisa mengenyahkan sosok itu** Kunasehati ia untuk mulai membangun mimpi2nya yang baru,yang lebih nyata, lebih mudah diraihnya, karena tak akan ada wanita lain yang merasa terancam. Kuyakinkan ia bahwa dia masih memiliki banyak kekuatan, dengan hati beningnya, dengan pikiran2 cerdasnya, dengan cintanya yang tak akan pernah habis. Kubelai kepalanya, agar dia merasa aman, tenteram, karena Tuhan akan selalu membelainya dengan penuh kasih, kusarankan dia agar senantiasa bertobat, jangan mengingkari lagi kata hatinya yang sudah membisikkan kebenaran, jangan turuti egonya lagi. Dia TIDAK AKAN BISA berteman saja dengan sosok itu, sosok itu telah dia ciptakan dalam imaginasinya sendiri, menjelma dalam pikiran dan perkataan lelaki itu, yang akhirnya menyiksa mereka berdua. Mulai kini, bangunlah mimpi2mu yang baru, puteri ... yang lebih nyata ! Senyata kontribusimu dalam tulisan yang kau bagi untuk yang lain disini :
Suara di seberang sana terdengar lebih tegar dari biasanya, ketika kami berdua- saya dan “soulmate” saya itu- berada dalam percakapan telepon malam itu. Soulmate disini ada dalam tanda kutip karena ia bukan suami saya, bukan juga selingkuhan saya (emang gak punya sich!**nge-dehem..ehm,ehm**) tapi dia sudah lebih dari sekedar sahabat buat saya, walau umurnya lebih tua sekitar 15-20 tahun. Segalanya selalu kami bagi berdua, begitupun tentang masalah rumah tangganya yang berada diujung tanduk, saya selalu bersedia menjadi ‘tempat sampah’ untuknya, walau tak pernah saya berani untuk menasihatinya, bahkan untuk berkata ‘sabar yaa’ karena jika saya berada di posisinya, mungkin sudah lama saya mendiami rumah ukuran 2x1 di tanah kusir (brrr..!**merinding**).
“Jadi,gitu aja ya De…lo yang temenin gue ke rumah keluarganya Arman (suaminya-red),kita bertiga sama abang gue, tapi gue minta lo yang temenin…” teman saya Nuning.
“mm,gak masalah…nemenin aja khan?” saya bertanya.
“Iya, sich…tapi, tolong dong bantuin mikir juga,gimana cara ngomongnya ke keluarganya ya, biar mereka gak banyak pertanyaan karena gue udah gak mau mikir-mikir lagi, udah mantep sekarang untuk ambil keputusan.”
“Satu lagi, tolong hubungin temen lo yang Lawyer divorce itu, gimana prosedurnya nanti supaya gak berbelit dan tentang gono-gini, hak asuh, biar gak ‘berantem’ disononya…,gue gak kuat mikirnya, besides I’m going to Shanghai only for 4 days, ngurusin pameran, pusing deh gue kalo mesti ngurusin begituan..”
**glekk! Saya minum aer es dulu, biar adem…**
Adodoooh…kalau anda jadi saya, pusing gak ? Tapi saya gak mau membahas soal “soulmate” saya ini yang minta tolongnya gak ketulungan..hehe..apapun akan saya lakukan buat dia, karena memang saya gak bisa menolaknya, secara dia juga gak pernah sekalipun nolak membantu saya ketika saya memerlukan pertolongannya.
Yang saya mau bahas disini adalah cerita tentang sosoknya ini. Katakan saja, Nuning namanya. Sudah lebih dari 25 tahun menikah, mungkin tahun ini menginjak usia pernikahan yang ke 27. Tapi sudah 2 tahun belakangan ‘pisah ranjang’ barangkali, karena kadang masih serumah, tapi komunikasi terputus total. Suami kadang pergi begitu saja, tanpa memberitahu dulu hendak kemana, sedang Nuning adalah wanita karir yang cukup berhasil – saya kurang paham tentang golongan di struktur pemerintahan, yang jelas mungkin 4D or something sudah berhasil diraihnya – sehingga mengharuskan dia sering bepergian ke luar kota dan luar negri, hampir puluhan kali traveling dalam setahun. Seingat saya, semua sudah pernah disinggahinya, sampai ke Meksiko sekalipun, sehubungan dengan pekerjaannya. Dari pernikahan mereka lahir 2 anak, yang menurut saya, anugrah luar biasa dari Tuhan, karena mereka pintar , cantik&ganteng (laki2 dan perempuan). Tapi kehidupan memang bukan surga, pasti ada sesuatu yang membuat kita selalu merasa ‘di neraka dunia’.
Selama 27 tahun terikat pernikahan dengan suami yang menurut saya *ndableg* gak pernah saya lihat dia berniat untuk ‘main hati’ dengan pria lain, lebih baik dia curhat ke saya atau ke ibunya (jika memang memungkinkan, karena terkadang dia tidak mau membebani pikiran orangtuanya) apalagi sampai mau divorce segala, buat dia lebih baik dia nangis bombay, tapi setelah itu bisa tegar lagi, ketimbang menyerah. Nah, gimana gak ndablek tuh suami, punya istri sesabar ini, gak dijaga ! kalo kata lagunya Andra&The Backbone **Kau begitu…sempurna..!**
Tapi itulah, setegar apapun wanita, dia bukan ironwoman atau bukan wanita berhati besi. Buat saya Nuning adalah the real Superwoman, wanita tegar yang berhati lembut dan tentu saja bisa rapuh ketika digerus kekecewaan demi kekecewaan yang selalu melukai hatinya **cihh, jadi melo,gini seeh!** Setahu saya, hanya 2-5 tahun dia menikmati kehidupan rumah tangga yang lumayan normal. Itupun karena mereka masih tinggal di rumah orangtua Nuning, karena sang suami memang tidak pernah bisa memenuhi tuntutan kebutuhan ekonomi keluarga, termasuk menyediakan rumah yang sederhana sekalipun, saat itu. Ketika 5 tahun berdiam di pondok mertua indah, orangtua Nuning membantu membelikan sebuah rumah BTN sederhana.
Mereka menikah bukan karena dijodohkan, tetapi memang saling cinta. Suami seorang pegawai negri yang gajinya pas-pasan, tapi Nuning tidak pernah protes, karena sejak awal pernikahan dia memang jelas mengetahuinya. Saat itu harapan masih setinggi gunung,- semoga nanti perlahan kehidupan perekonomian mereka membaik- dan memang terjadi, tapi bukan hasil kerja keras suami, yang semestinya mengambil beban tanggungjawab itu. Tapi oke lah, toh, aliran rezeki kadang memang bisa datang dari mana saja, mungkin dalam rumahtangga ini,sang istri lebih berperan. Tapi di sisi lain, si suami tidak mau beralih fungsi dengan mengambil sebagian tanggung jawab istrinya, sebagai ibu dari anak2 mereka. Dari mulai urusan sekolah anak, sampai urusan remeh temeh macem betulin genteng bocor, sering kali jadi bagian pekerjaan yang harus diselesaikan sahabat saya itu. Lha, terus suami kerjaannya ngapain dong ? Sepanjang yang saya tahu dari cerita Nuning, kalau di rumah suaminya lebih banyak santai2 sembari baca Koran, atau ketika mereka punya komputer, ya main game, atau nonton tipi, apalagi kalo ada pertandingan olahraga, wuahh…anak mereka nangis karena jatuh terpeleset pun, gak dia hiraukan saking asiknya.
Sebegitu, sahabat saya itu masih harus ‘dituntut’ untuk bisa masak makanan kesukaan suaminya, dan tetap melayaninya dengan baik di ranjang, tentunya ! **kalau saya.., cihh, dah kagak bisa horny kali..** Tapi itulah Nuning, wanita tegar yang memilih menanggung ‘resiko’ dari pilihannya sendiri, suami yang (mungkin) pernah memberikan kebahagiaan lahir bathin kepadanya, tapi lebih banyak menyengsarakan hidupnya -saya kira. Suami yang penghasilannya pas2an karena tidak mau bekerja lebih giat, pun sampai akhirnya pensiun, penghasilannya tidak pernah melebihi sang istri (namun tak pernah Nuning mengeluhkan soal ini, mungkin karena keikhlasannya itu, rezeki tak hentinya mengalir kepadanya untuk anak2nya). Belum lagi sifat suaminya yang selalu minta dilayani, tidak mau berbagi peran dalam rumah tangga. Dan 2 tahun belakangan, suaminya suka protes, karena sang istri dinilai kurang memperhatikan dirinya yang sudah pensiun & tidak mempunyai pekerjaan sambilan, dia sering merasa kesepian ditinggal istrinya dinas, ke luar kota maupun ke luar negeri **cihh, emang mo ngikut??lha, ntar uang saku abis aja buat bayarin dia !**Tapi kalau diminta tolong buat antar2 Nuning ke kantor atau kemana, gak mau, alasannya, pusing nyetir di jalan yang semrawut sekarang ini. Jadilah Nuning mempekerjakan supir **padahal,kalau suami mau berkorban sedikit, bisa mendekatkan hubungan karena sering bersama2, dan gak perlu bayar supir khan ?**
Dan kini, sahabat saya itu sudah lelah, betul2 sudah berada di ‘tepi jurang’ kesabarannya. 25 tahun bukan waktu yang singkat untuk bersabar, meski samasekali dia gak menyesal telah menyerahkan hidupnya untuk bersabar dengan semua perlakuan suaminya. Begitupun anak2 mereka, sebetulnya sudah lama kehilangan figur seorang ayah, semua peran sudah diambil sang ibu, meski ayah mereka serumah dan mereka hingga kini masih tetap menjadi anak yang penurut. Tapi mereka kini bukan anak kecil lagi, mereka sudah bisa ‘membaca’ permasalahan orangtuanya, dan mereka mendukung keputusan ibunya untuk menempuh jalan berpisah. Bahkan 2 tahun belakangan, semenjak ayah mereka pensiun, mereka semakin tak betah di rumah, karena sang ayah sering marah2 tanpa sebab, pernah beberapa kali ‘main tangan’ untuk menyelesaikan masalah. Rumah besar yang megah itu terkadang serasa ‘neraka’ buat penghuninya **sighs**.
Cerita saya ini bukan rekayasa, ini kisah nyata, dan tanpa bermaksud menakut-nakuti yang belum menikah, saya justru ingin melihat permasalahan ini dari sisi lain, yaitu bahwa wanita memang bukan mahluk yang lemah, terbukti sekali dari sosok Nuning ini, saya rasa lebih berat hidup serumah bersama suami yang tidak bertanggungjawab ketimbang harus jadi single parent karena divorce atau ditinggal mati suami,misalnya. Kalau masih berstatus sah sebagai suami-istri, sang istri tetap harus menjalankan kewajiban ke suaminya,khan – sementara, kalau suami tidak menjalankan kewajibannya maksimal, istri susah protes, karena siapa yang bisa mengukur itu sudah maksimal atau belum, suami tidak mau disalahkan.
Tapi hidup juga sebuah pilihan, dan tidak ada yang salah-benar terhadap pilihan itu. Nuning pada awalnya memilih untuk fight dengan segala kesulitan, namun kini dia memilih untuk ‘berhenti’ dan saya rasa tidak ada alasan saya untuk tidak mendukungnya.
Whatever your choice, you are still The Real Superwoman in this life…
Kebutuhan jam tidur yang ideal itu sebenarnya berapa jam, menurut anda?
Saya pernah membaca bahwa idealnya dalam dua puluh empat jam, sebanyak delapan jam harus kita gunakan untuk mengistirahatkan tubuh kita -inget,bukan berada di dalam kamar tidurnya yang 8 jam,tapi tidur yang berkualitas selama itu- rasanya kok buat kita yang masih dalam usia produktif seperti ini, agak sulit,ya. Apalagi misalnya untuk woman multitasker , ya karyawati , istri,ibu rumah tangga dengan dua anak, belum lagi kalau hobinya menulis, biasanya ide-ide untuk menulis datangnya paling yahud di malam hari, justru disaat fisik sudah lelah tapi pikiran masih belum mau kita istirahatkan. Saya suka illfeel kalau sudah nyaman di balik selimut, bersiap 'mengosongkan' pikiran supaya relax, tapi ternyata malah menemukan ide yang sepertinya menarik untuk dituangkan ke dalam sebuah tulisan. Mau bangun lagi untuk menulis, ragu karena begitu melirik jam, sudah mau masuk ke angka kecil, wah bisa kesiangan besok. Sedangkan kita kalau sudah mulai menulis, biasanya gak akan berhenti kalau belum semua tertuang, minimal itu dulu, kalau seperti saya yang menulisnya tidak perlu deadline, editnya bisa besok-besok. Tapi berapa lama kita habiskan waktu untuk menyelesaikan ide kita untuk ditulis, khan tidak bisa dibatasi, itu masalahnya.
Dulu sewaktu lajang, saya masih kuat begadang (tapi bukan buat nulis,sich :D) tapi kalau sekarang, duh..**nafsu besar tenaga kurang :D** Apalagi semenjak sakit, makin diperketat saja jadwal istirahat saya ini, siang minimal harus tidur satu jam, sempet protes ke dokter -bukan protes sih, sekedar bertanya kenapa harus?- jawabannya karena, kalau mau hidup lebih lama, ya memang harus begitu, tidak bisa bergantung selamanya dengan obat-obatan. Ibaratnya sebuah mobil, antara taxi dengan mobil pribadi, sudah pasti taxi akan lebih banyak 'aus' nya karena dipergunakan terus menerus walaupun service rutin juga dilakukan. Intinya, biar tubuh kita yang bekerja secara alami, jangan selalu mengandalkan supplemen, apalagi obat penenang.
Jadi ingat cerita 'lucu' sewaktu saya pernah minta obat tidur yang paling ringan ke dokter saya, Blio cuma geleng pelan banget. Saya yang memang keras kepala, masih terus bertanya, "Memang kenapa Dok,gak boleh..,khan atas pengawasan Dokter?" "Napasnya berhenti,nanti." Wahahaha, pendek tapi bermakna banget ! Ya,biar bagaimanapun obat tidur dengan dosis rendah sekalipun (termasuk merk bebas yang dijual di pasaran, sebenarnya tidak aman), Dokter pun biasa memakainya hanya untuk keperluan tertentu, misalnya besok pasiennya harus menjalani operasi besar, harus cukup tidur, maka malamnya diberi 1 tablet tidur.
Memang saya pribadi sih, tidak perlu memakai obat tidur apalagi obat penenang **berasa jadi Michael Jackson,alm.** tapi beneran deh, persoalan insomnia ringan ini mulai mengganggu. Bangun pagi sering gak merasa fit,segar, kadang betenya terbawa sehari penuh. Kalau saya diskusi dengan teman-teman, rata-rata mereka bisa ya, tidur cuma 3-4 jam sehari, tanpa menjadi 'bloon' di tempat kerja karena gak bisa berfikir. Tapi, umumnya teman saya yang ibu rumah tangga full di rumah dan mengurusi semua remeh temeh urusan pekerjaan di rumah, gak kuat kalau cuma tidur sebegitu, pasti siangnya harus 'balas dendam'.
Nah, kalau anda sendiri, dan juga para blogger (kalau boleh saya menyebut begitu) yang sering menghasilkan tulisan, pernah ngalamin insomnia juga gak, yang sampai mengganggu, bikin blank mau nulis apa gituh,karena ingetnya malem pas udah mau tidur ? Share ya, kali aja bisa saya contek cara mengatasinya.
Sebenarnya saya mau posting tulisan tentang relationship, tapi tadi malem mau bangun lagi, takut bablas ampe pagi. Pas siang tadi, masih inget idenya, tapi mandeg nulisnya.
Ilustrasi gambar diambil dari www.keepingyouwell.com/ALMH/Portals/33/images...
** ini testing tulisan ke web http://www.ngerumpi.com tempat maen yg baru **
Revisi(lagi). Menulis buat 'this fatty but happy woman' sama halnya dengan membicarakan sesuatu, mendiskusikannya.Ketika sesuatu sulit diutarakan dgn verbal,krn satu&lain hal,wanita tambun ini memilih utk melatih kemampuannya dlm bernarasi. Dg niat awal sbg "self healing"krn isi dikepalanya harus dimuntahkan(huek)maka selamat ber-huek ria ketika membacanya :)). Jelek,gak bagus? ya eyyaalaa, secara lagi belajar bikin blog :D. Tapi saiah gak minderan, kalo blom bagus, kali2 ajahh ada yang mau ngajarin saiah **ngarep mode on** hidup aja mesti tiap hari belajar, apalagi cuma bikin blog,pasti akan saya sambut dengan suka cita :D **gak nyambung**