Tuesday, July 21, 2009
Karir VS Anak ?-Postingan di ngerumpi-
http://ngerumpi.com/baca/2009/07/19/karir-vs-anak.html
Yang enam sebelumnya :
-enam-
http://ngerumpi.com/baca/2009/07/18/selamat-anda-memenangkan-hadiah
-lima-
http://ngerumpi.com/baca/2009/07/16/hanya-numpang-lewat
-empat-
http://ngerumpi.com/baca/2009/07/12/kenapa-horor-sich
-tiga-
http://ngerumpi.com/baca/2009/07/10/the-real-superwoman
-dua-
http://ngerumpi.com/baca/2009/07/07/otak-kanan-atau-otak-kiri
-perdana-
http://ngerumpi.com/baca/2009/07/07/berapa-jam-dalam-sehari-anda-tidur
Silahkan lho, kalo mau nyambit saya pake ulekan gara2 narsis ini...bwahahahaaa
**Ngabur duluan**
Monday, July 20, 2009
**hassle**
Today I feel sick with my br****nL**
Today I hate myself coz I can't do anything ,
can not say anything to warn the one whom I care enough, I love enough
He's cheating behind you, sist...
Hope that I'm wrong,
Hope that he's just boastful to his friend
But, actually I do nothing..!
Nothing !
Even you are on the line with me, my mouth is stuck
Forgive my stupidity,
But tomorrow, I'll find a way to tell you, coz I care, coz I love my Bestfriend-my sista
Thursday, July 16, 2009
The Confession

July 7 2009
- ini hari keenam aku menyimpan rapat luka harga diriku karena khamu -
July 8 2009
Pagi pun menjelang, ach ! Bergegas kita bersama merapihkan ini itu seperlunya, untungnya saat ini kita bisa bernapas lega, tak perlu make the house clean and comfortable, the maid will become while we're on the road.
Puncak. Itu tujuan kita pagi itu, secepatnya meluncur di jalan bebas hambatan, mengejar waktu seakan tak ingin kehilangan semenitpun hari itu, serasa tak akan ada hari lain (oh,tidak-aku ingin merasakan indah,pahit dan manisnya lebih lama bersamamu, semoga Tuhan mau berbagi sedikit belas kasihannya padaku).
Entah kenapa, hari itu perasaanku tak karuan, antara takut, sedih, merasa bersalah (mungkin?) tapi indahnya sinar mentari dan hijaunya hamparan kebun teh mampu mengusir itu semua, hanya suka, tenang dan nyaman menguasai pikiranku. Kudekatkan pipi ke kupingmu yang dingin, ach..bagian yang paling kusuka ! Nose to nose kissing, that's what you loved.
-hari ini aku tak ingat, hari keberapa aku menahan luka dari orang di sebelah khamu-
Aku terlalu bahagia hari ini, tak ingin mengotorinya dengan pikiran-pikiran yang menyesakkan hatiku.
July 9 2009
Hari ini masih lanjutan kebahagiaan demi kebahagiaan pagi kemarin, siang, sore dan tadi malam. Bangun pagi dengan semangat membuncah, menyongsong kejutan hari ini. Kejutan ? Ya,karena hari ini kita belum menyusun rencana, hendak dimana lagi kita mengukir keindahan itu lagi. Puncak lagi, Sukabumi kah, atau di sekitar Jakarta saja ? Ternyata, di siang terik yang panas, kau ajak aku bernostalgia ke sebelas tahun lalu ! Ahahahahaaa...aku sukaaa ! Walau bulir-bulir keringat sebiji jagung mengalir di balik kerudung, tapi hatiku sejuk. Tapi dulu, kita gak pernah berpanas-panas begini,seingatku ? hahahaa..tentu saja, karena kita selalu janjian di tempat ini sore, after office hour, dan masih banyak 'jalan tembus' yang bisa kita pergunakan untuk memotong jalan, dan aku tentu saja masih ramping dengan rok sepuluh centi diatas lutut...hmm, tapi sekarang, tubuhku tertutup rapat plus kita harus berjalan memutar tiga kali lebih jauh dari yang dulu. Tapi, aku masih menemukan semangat yang sama, seperti sore-sore dulu itu, ketika kubayangkan aku akan ketemu kamu (dengan tas seukuran tas laptopmu itu, yang paling aku sebel ! hahahaa...) menyusun rencana, ke pasaraya dulu atau melawai dulu, mau beli tempat hantaran, atau temani aku beli rok dulu, atau ke gramedia dulu temani kamu beli buku. I never change for you, Nny...maybe I change, but not my love for you. How about you?
-Ach, tiba-tiba kuingat sms itu lagi, disela-sela antrian busway blok M yang terik durjana-
Tapi genggaman tanganmu, tangan kaka & adek, serta antusiasnya mereka menunggu busway, sedikit menggerus bayangan aku tentang khamu. Syukurlah tak terlalu lama kami menunggu, dan akhirnya selesai juga perjalanan 'icip-icip panasnya ngantri busway' fiuhh..leganya liat parkiran mobil di pasaraya ! Selega perasaanku ketika bayangan khamu hengkang dari kepalaku.
Perjalanan nostalgia pun masih terus berlanjut, hingga ke sekitar TIM**pengen lagi ya,ke Planetarium** kemudian jalan sabang**ach..si syifa,dulu masih di dalam pun sukanya 'nyuruh' bunda beli roti di bakery satu ini, sekarang kamu pilih roti lumayan banyak juga disini ** berakhir di PIM, a place that always give the good atmosphere for me, PIM 1 bukan yang 2, karena aku merasa tidak homy disitu.
The moon is coming, then I felt worried about tomorrow, how should I tell you ? But we've promised to do this properly. My anxiety dissappeared when you gave the warm at night, the "our precious moment".
-Di hari ini, tiba-tiba aku mau memafkan khamu sepenuh hati, karena aku bersyukur atas apa yang telah aku terima beberapa hari belakangan ini. Robekan harga diriku berhasil kurekatkan dengan kebersyukuranku pada Tuhan, termasuk hujatan yang aku terima. Terimakasih telah menghujat aku, beritahu orang disebelahmu. Karena dia aku tersadar,aku menjadi lebih bersyukur, mempunyai belahan jiwa sebaik yang aku impikan.-
July 10 2009
Tiba harinya aku harus membuat pengakuan, membuat semuanya menjadi jelas, meyakinkanmu bahwa semua masih tak berubah. Sedikit berkurang bukan berarti membuatnya berubah, dan aku berjanji pada hatiku sendiri untuk menggenapkannya kembali seperti dulu, seperti sebelas tahun atau duabelas tahun lalu, serupa blok M yang sedikit berkurang kepadatannya tapi bukan berarti tak ada lagi pasaraya dan melawai disana.
Aku : "Aku memang ada apa-apa dengannya, tapi kau jangan marah dulu, jangan menyela penjelasanku, kumohon bersabarlah sedikit untuk menyampaikan pendapatmu, kau mau khan?"
My Love : "Tentu..."
Aku : "Telah terjadi sesuatu yang diluar dugaan aku, juga kau, yang sebelumnya tak pernah kita khawatirkan, karna kita selalu berusaha sama-sama memberikan cinta, bukan mengharapkan cinta, dengan begitu, bisa mencintai saja, sudah merasa kita bahagia. Selama itu pula kita mencoba menyelesaikan persoalan demi persoalan dengan hati, tak mengharap imbalan, hanya dengan terselesaikannya saja, kita sudah merasa bersyukur. Dengan visi kita yang sama itupun kita berusaha memberikan yeng terbaik buat anak-anak kita, tak pernah kita tentukan harus jadi apa mereka, tapi dengan menyadari bagaimana kita memperlakukan mereka, kita akan mendampingi mereka menjadi seperti apa yang Tuhan inginkan buat mereka. Semua terlihat sempurna diantara kita berdua, tapi, Tuhan selalu punya cara tersendiri untuk membuatnya lebih dan lebih baik lagi, termasuk diselipkannya ketidaksempurnaanku dalam menyikapi apa yang aku alami setahun belakangan ini. Dan, Ya, aku memang menduakan, namun tak separah yang diinginkan iblis dalam diriku, aku tetap bersyukur karenanya. Tapi perasaan bersalahku tak akan pernah lenyap begitu saja andai kau tak duduk disini, mendengar 'pengakuan dosa' ku. Kulipat sekecil apapun ini, tetaplah ia akan menyembul serupa kerikil yang mengapung di laut. Ya, aku salah, Nny..."
My Love : "Tidak,istriku, bukan kau yang salah, aku juga bersalah. Sejujurnya aku merasa berat serupa kuli panggul di pasar yang belum makan seharian memanggul beras satu kintal di teriknya matahari yang panas. Kutahu sebagian hatimu ada disitu, di kotak yang beratnya tak lebih dari satu kilo yang sedang kubawa. Tapi aku belajar darimu, berusaha untuk bersikap yang terbaik apapun yang kita hadapi, begitupun saat itu. Ingin rasanya kubuang jauh dus kiriman itu, tapi itu titipanmu padaku, aku tak berhak merusaknya sebelum sampai ke tanganmu."
"Aku yakin, Tuhan telah mengijinkanmu berbuat suatu kesalahan, dan ternyata kau cepat tersadar secepat waktu berlalu ketika keindahan sedang bersama kita rasakan. Karena aku percaya padaNYA, karena mu aku seperti hari ini, karena mu bisa kurasakan perjuangan yang sesungguhnya mengarungi firdaus kehidupan ini, bersamamu pula akan kuraih surga impian semua umat, dan itu tak akan bisa kulakukan tanpa kebaikanmu juga kekhilafanmu, istriku.."
"kesalahanmu, kekhilafanmu, adalah jalan pintas bagiku untuk meraih itu semua. Pengertian dariku, pengorbanan untukmu dan anak-anak kita, adalah nafasku untuk terus bertahan. Ilmuku yang terbatas, adalah kakiku untuk berjalan mendekati tujuan itu. Niatku untuk tetap maju kedepan, adalah semangat untuk cepat meraihnya. Dan kau serta dua buah hatiku, tak akan pernah aku tinggalkan. Bantu aku untuk bisa mengerti keinginanmu,istriku...temani aku belajar memperdalam ilmuku, ingatkan aku ketika niatku mulai goyah, dan tetap berada disisiku, hingga aku tak perlu susah payah merengkuhmu, mengarungi perjalanan ini ".
Dan...hatikupun menangis, sembunyi-sembunyi kuhapus genangan di sudut mataku. Aku tak tahu harus apa, aku begitu malu di hadapanmu, juga dihadapanNYA.
*Tapi aku gak benci khamu, karena semua terjadi atas ijinNYA*
Aku : "Maafkan aku, Nny...aku berjanji akan menjauhinya"
My Love : "Jangan kau ucapkan janji, akan lebih baik bila kau niatkan dalam hati, dan InsyaAllah boleh kau ucapkan"
Sundukan kepalaku di dagumu, membuatku lebih tenang, sayang tak bisa berlama-lama saat itu, karna kau sedang berkendara, kita akan jemput mereka berdua, kita akan habiskan sisa jumat ini dengan kebahagiaan penuh seperti dua hari kemarin !
Hari ini
Ach...mengapa segalanya yang begitu indah selalu terasa cepat berakhir, seminggu berlalu, tapi semua ingatan tentang hari-hari kemarin masih kurasa indahnya. **heyy, aku khan masih milikmu, kita masih sama-sama, tentu saja kapanpun itu bisa kita ulangi**
Ya, akhirnya kesadaranku bahwa kita masih bersama, membuatku ingin selalu meletakkan semua kesalahanku dibelakang, berat menyeretnya laksana menarik sapi potong yang sudah terkapar, tak kupunya tenaga sebesar itu untuk menyeretnya. Biarkanlah khamu menjadi cerita lalu yang lenyap serupa asap (mengutip perkataan temanku yang kukagumi karyanya). Biarlah orang disebelahmu puas dengan kedigdayaannya atas diri khamu, dengan begitu dia mempermudah perjalananku.
Tapi, mengapa rasa sepi itu selalu menghampiriku, rasanya tak kupunya banyak waktu untuk mengkhayalkanmu, tapi khamu selalu saja muncul tanpa aku khayalkan. Semoga tetap bisa kupertahankan rasa ini laksana rindu kepada teman lama, teman berbagi cerita. Karena kini, hanya ceritaku yang akan kubagi dengan khamu, bukan hatiku.
**Di pertengahan july yang bercampur baur, antara sejuk dan terik matahari durjana, antara mencintai My Love - egoku - dan DIA**
Aku hanya manusia biasa yang penuh dengan ketidaksempurnaan.
Monday, July 13, 2009
Exhausted
There's something I wanna write over it, but there's no time enough for me to express my mind...
Friday, July 10, 2009
The Real Superwoman
Postingan ke-3 di http://www.ngerumpi.com
Suara di seberang sana terdengar lebih tegar dari biasanya, ketika kami berdua- saya dan “soulmate” saya itu- berada dalam percakapan telepon malam itu. Soulmate disini ada dalam tanda kutip karena ia bukan suami saya, bukan juga selingkuhan saya (emang gak punya sich!**nge-dehem..ehm,ehm**) tapi dia sudah lebih dari sekedar sahabat buat saya, walau umurnya lebih tua sekitar 15-20 tahun. Segalanya selalu kami bagi berdua, begitupun tentang masalah rumah tangganya yang berada diujung tanduk, saya selalu bersedia menjadi ‘tempat sampah’ untuknya, walau tak pernah saya berani untuk menasihatinya, bahkan untuk berkata ‘sabar yaa’ karena jika saya berada di posisinya, mungkin sudah lama saya mendiami rumah ukuran 2x1 di tanah kusir (brrr..!**merinding**).
“Jadi,gitu aja ya De…lo yang temenin gue ke rumah keluarganya Arman (suaminya-red),kita bertiga sama abang gue, tapi gue minta lo yang temenin…” teman saya Nuning.
“mm,gak masalah…nemenin aja khan?” saya bertanya.
“Iya, sich…tapi, tolong dong bantuin mikir juga,gimana cara ngomongnya ke keluarganya ya, biar mereka gak banyak pertanyaan karena gue udah gak mau mikir-mikir lagi, udah mantep sekarang untuk ambil keputusan.”
“Satu lagi, tolong hubungin temen lo yang Lawyer divorce itu, gimana prosedurnya nanti supaya gak berbelit dan tentang gono-gini, hak asuh, biar gak ‘berantem’ disononya…,gue gak kuat mikirnya, besides I’m going to Shanghai only for 4 days, ngurusin pameran, pusing deh gue kalo mesti ngurusin begituan..”
**glekk! Saya minum aer es dulu, biar adem…**
Adodoooh…kalau anda jadi saya, pusing gak ? Tapi saya gak mau membahas soal “soulmate” saya ini yang minta tolongnya gak ketulungan..hehe..apapun akan saya lakukan buat dia, karena memang saya gak bisa menolaknya, secara dia juga gak pernah sekalipun nolak membantu saya ketika saya memerlukan pertolongannya.
Yang saya mau bahas disini adalah cerita tentang sosoknya ini. Katakan saja, Nuning namanya. Sudah lebih dari 25 tahun menikah, mungkin tahun ini menginjak usia pernikahan yang ke 27. Tapi sudah 2 tahun belakangan ‘pisah ranjang’ barangkali, karena kadang masih serumah, tapi komunikasi terputus total. Suami kadang pergi begitu saja, tanpa memberitahu dulu hendak kemana, sedang Nuning adalah wanita karir yang cukup berhasil – saya kurang paham tentang golongan di struktur pemerintahan, yang jelas mungkin 4D or something sudah berhasil diraihnya – sehingga mengharuskan dia sering bepergian ke luar
Selama 27 tahun terikat pernikahan dengan suami yang menurut saya *ndableg* gak pernah saya lihat dia berniat untuk ‘main hati’ dengan pria lain, lebih baik dia curhat ke saya atau ke ibunya (jika memang memungkinkan, karena terkadang dia tidak mau membebani pikiran orangtuanya) apalagi sampai mau divorce segala, buat dia lebih baik dia nangis bombay, tapi setelah itu bisa tegar lagi, ketimbang menyerah. Nah, gimana gak ndablek tuh suami, punya istri sesabar ini, gak dijaga ! kalo kata lagunya Andra&The Backbone **Kau begitu…sempurna..!**
Tapi itulah, setegar apapun wanita, dia bukan ironwoman atau bukan wanita berhati besi. Buat saya Nuning adalah the real Superwoman, wanita tegar yang berhati lembut dan tentu saja bisa rapuh ketika digerus kekecewaan demi kekecewaan yang selalu melukai hatinya **cihh, jadi melo,gini seeh!** Setahu saya, hanya 2-5 tahun dia menikmati kehidupan rumah tangga yang lumayan normal. Itupun karena mereka masih tinggal di rumah orangtua Nuning, karena sang suami memang tidak pernah bisa memenuhi tuntutan kebutuhan ekonomi keluarga, termasuk menyediakan rumah yang sederhana sekalipun, saat itu. Ketika 5 tahun berdiam di pondok mertua indah, orangtua Nuning membantu membelikan sebuah rumah BTN sederhana.
Mereka menikah bukan karena dijodohkan, tetapi memang saling cinta. Suami seorang pegawai negri yang gajinya pas-pasan, tapi Nuning tidak pernah protes, karena sejak awal pernikahan dia memang jelas mengetahuinya. Saat itu harapan masih setinggi gunung,- semoga nanti perlahan kehidupan perekonomian mereka membaik- dan memang terjadi, tapi bukan hasil kerja keras suami, yang semestinya mengambil beban tanggungjawab itu. Tapi oke lah, toh, aliran rezeki kadang memang bisa datang dari mana saja, mungkin dalam rumahtangga ini,sang istri lebih berperan. Tapi di sisi lain, si suami tidak mau beralih fungsi dengan mengambil sebagian tanggung jawab istrinya, sebagai ibu dari anak2 mereka. Dari mulai urusan sekolah anak, sampai urusan remeh temeh macem betulin genteng bocor, sering kali jadi bagian pekerjaan yang harus diselesaikan sahabat saya itu. Lha, terus suami kerjaannya ngapain dong ? Sepanjang yang saya tahu dari cerita Nuning, kalau di rumah suaminya lebih banyak santai2 sembari baca Koran, atau ketika mereka punya komputer, ya main game, atau nonton tipi, apalagi kalo ada pertandingan olahraga, wuahh…anak mereka nangis karena jatuh terpeleset pun, gak dia hiraukan saking asiknya.
Sebegitu, sahabat saya itu masih harus ‘dituntut’ untuk bisa masak makanan kesukaan suaminya, dan tetap melayaninya dengan baik di ranjang, tentunya ! **kalau saya.., cihh, dah kagak bisa horny kali..** Tapi itulah Nuning, wanita tegar yang memilih menanggung ‘resiko’ dari pilihannya sendiri, suami yang (mungkin) pernah memberikan kebahagiaan lahir bathin kepadanya, tapi lebih banyak menyengsarakan hidupnya -saya kira. Suami yang penghasilannya pas2an karena tidak mau bekerja lebih giat, pun sampai akhirnya pensiun, penghasilannya tidak pernah melebihi sang istri (namun tak pernah Nuning mengeluhkan soal ini, mungkin karena keikhlasannya itu, rezeki tak hentinya mengalir kepadanya untuk anak2nya). Belum lagi sifat suaminya yang selalu minta dilayani, tidak mau berbagi peran dalam rumah tangga. Dan 2 tahun belakangan, suaminya suka protes, karena sang istri dinilai kurang memperhatikan dirinya yang sudah pensiun & tidak mempunyai pekerjaan sambilan, dia sering merasa kesepian ditinggal istrinya dinas, ke luar
Dan kini, sahabat saya itu sudah lelah, betul2 sudah berada di ‘tepi jurang’ kesabarannya. 25 tahun bukan waktu yang singkat untuk bersabar, meski samasekali dia gak menyesal telah menyerahkan hidupnya untuk bersabar dengan semua perlakuan suaminya. Begitupun anak2 mereka, sebetulnya sudah lama kehilangan figur seorang ayah, semua peran sudah diambil sang ibu, meski ayah mereka serumah dan mereka hingga kini masih tetap menjadi anak yang penurut. Tapi mereka kini bukan anak kecil lagi, mereka sudah bisa ‘membaca’ permasalahan orangtuanya, dan mereka mendukung keputusan ibunya untuk menempuh jalan berpisah. Bahkan 2 tahun belakangan, semenjak ayah mereka pensiun, mereka semakin tak betah di rumah, karena sang ayah sering marah2 tanpa sebab, pernah beberapa kali ‘main tangan’ untuk menyelesaikan masalah. Rumah besar yang megah itu terkadang serasa ‘neraka’ buat penghuninya **sighs**.
Cerita saya ini bukan rekayasa, ini kisah nyata, dan tanpa bermaksud menakut-nakuti yang belum menikah, saya justru ingin melihat permasalahan ini dari sisi lain, yaitu bahwa wanita memang bukan mahluk yang lemah, terbukti sekali dari sosok Nuning ini, saya rasa lebih berat hidup serumah bersama suami yang tidak bertanggungjawab ketimbang harus jadi single parent karena divorce atau ditinggal mati suami,misalnya. Kalau masih berstatus sah sebagai suami-istri, sang istri tetap harus menjalankan kewajiban ke suaminya,khan – sementara, kalau suami tidak menjalankan kewajibannya maksimal, istri susah protes, karena siapa yang bisa mengukur itu sudah maksimal atau belum, suami tidak mau disalahkan.
Tapi hidup juga sebuah pilihan, dan tidak ada yang salah-benar terhadap pilihan itu. Nuning pada awalnya memilih untuk fight dengan segala kesulitan, namun kini dia memilih untuk ‘berhenti’ dan saya rasa tidak ada alasan saya untuk tidak mendukungnya.
Whatever your choice, you are still The Real Superwoman in this life…
Tuesday, July 7, 2009
Berapa Jam Dalam Sehari Anda Tidur?

Saya pernah membaca bahwa idealnya dalam dua puluh empat jam, sebanyak delapan jam harus kita gunakan untuk mengistirahatkan tubuh kita -inget,bukan berada di dalam kamar tidurnya yang 8 jam,tapi tidur yang berkualitas selama itu- rasanya kok buat kita yang masih dalam usia produktif seperti ini, agak sulit,ya. Apalagi misalnya untuk woman multitasker , ya karyawati , istri,ibu rumah tangga dengan dua anak, belum lagi kalau hobinya menulis, biasanya ide-ide untuk menulis datangnya paling yahud di malam hari, justru disaat fisik sudah lelah tapi pikiran masih belum mau kita istirahatkan. Saya suka illfeel kalau sudah nyaman di balik selimut, bersiap 'mengosongkan' pikiran supaya relax, tapi ternyata malah menemukan ide yang sepertinya menarik untuk dituangkan ke dalam sebuah tulisan. Mau bangun lagi untuk menulis, ragu karena begitu melirik jam, sudah mau masuk ke angka kecil, wah bisa kesiangan besok. Sedangkan kita kalau sudah mulai menulis, biasanya gak akan berhenti kalau belum semua tertuang, minimal itu dulu, kalau seperti saya yang menulisnya tidak perlu deadline, editnya bisa besok-besok. Tapi berapa lama kita habiskan waktu untuk menyelesaikan ide kita untuk ditulis, khan tidak bisa dibatasi, itu masalahnya.
Dulu sewaktu lajang, saya masih kuat begadang (tapi bukan buat nulis,sich :D) tapi kalau sekarang, duh..**nafsu besar tenaga kurang :D** Apalagi semenjak sakit, makin diperketat saja jadwal istirahat saya ini, siang minimal harus tidur satu jam, sempet protes ke dokter -bukan protes sih, sekedar bertanya kenapa harus?- jawabannya karena, kalau mau hidup lebih lama, ya memang harus begitu, tidak bisa bergantung selamanya dengan obat-obatan. Ibaratnya sebuah mobil, antara taxi dengan mobil pribadi, sudah pasti taxi akan lebih banyak 'aus' nya karena dipergunakan terus menerus walaupun service rutin juga dilakukan. Intinya, biar tubuh kita yang bekerja secara alami, jangan selalu mengandalkan supplemen, apalagi obat penenang.
Jadi ingat cerita 'lucu' sewaktu saya pernah minta obat tidur yang paling ringan ke dokter saya, Blio cuma geleng pelan banget. Saya yang memang keras kepala, masih terus bertanya,
"Memang kenapa Dok,gak boleh..,khan atas pengawasan Dokter?"
"Napasnya berhenti,nanti."
Wahahaha, pendek tapi bermakna banget ! Ya,biar bagaimanapun obat tidur dengan dosis rendah sekalipun (termasuk merk bebas yang dijual di pasaran, sebenarnya tidak aman), Dokter pun biasa memakainya hanya untuk keperluan tertentu, misalnya besok pasiennya harus menjalani operasi besar, harus cukup tidur, maka malamnya diberi 1 tablet tidur.
Memang saya pribadi sih, tidak perlu memakai obat tidur apalagi obat penenang
**berasa jadi Michael Jackson,alm.**
tapi beneran deh, persoalan insomnia ringan ini mulai mengganggu. Bangun pagi sering gak merasa fit,segar, kadang betenya terbawa sehari penuh. Kalau saya diskusi dengan teman-teman, rata-rata mereka bisa ya, tidur cuma 3-4 jam sehari, tanpa menjadi 'bloon' di tempat kerja karena gak bisa berfikir. Tapi, umumnya teman saya yang ibu rumah tangga full di rumah dan mengurusi semua remeh temeh urusan pekerjaan di rumah, gak kuat kalau cuma tidur sebegitu, pasti siangnya harus 'balas dendam'.
Nah, kalau anda sendiri, dan juga para blogger (kalau boleh saya menyebut begitu) yang sering menghasilkan tulisan, pernah ngalamin insomnia juga gak, yang sampai mengganggu, bikin blank mau nulis apa gituh,karena ingetnya malem pas udah mau tidur ? Share ya, kali aja bisa saya contek cara mengatasinya.
Sebenarnya saya mau posting tulisan tentang relationship, tapi tadi malem mau bangun lagi, takut bablas ampe pagi. Pas siang tadi, masih inget idenya, tapi mandeg nulisnya.
Ilustrasi gambar diambil dari www.keepingyouwell.com/
** ini testing tulisan ke web http://www.ngerumpi.com tempat maen yg baru **
Wednesday, July 1, 2009
SI "NURANI"
"Ada apa dengan khamu?" tanyaku dengan setengah putus asa.
"Aku rasa dia disana baik-baik saja !" kata suara itu, teman berdebatku, teman sejatiku dikala aku gundah, dikala tak kutemukan satupun yang bisa kupercayai di dunia ini.
"Tapi ada yang aneh, tak biasanya dia tak membalas pesanku, bahkan lima hari lalu, dia begitu sumringah membaca pesanku kembali, setelah sekian waktu kubiarkan jariku beku diujung tuts papan ketik. Pasti telah terjadi sesuatu dengannya, kuharap dia tak lagi mendapat kesulitan karena aku, seperti waktu itu, di pagi itu..." aku memberondong dengan segenap kecemasanku.
"Berhentilah mengkhawatirkan segala sesuatunya secara berlebihan" suara itu berkata lebih berat.
"Bagaimana aku bisa meyakinkan diriku akan pendapatmu?" aku bertanya setengah tak yakin.
"Tentu saja kau harus mempercayai aku, karena aku satu-satunya yang tak akan pernah membohongimu".
"Darimana kutahu kau tidak menipuku?".
"Karena aku tak ingin menampakkan diri seperti yang lainnya, aku hanya menempati satu sudut kecil dalam ruangmu, tapi getaranku mampu menyadarkan seluruh isi 'rumah'mu, sehingga kau akan melangkah ke arah yang benar. Bukankah itu yang selama ini kau rasakan, ketika kau berada di persimpangan dan tak tau harus mengarah kemana, kau kerap berdiskusi denganku, dan akhirnya, langkahmu menuntun kepada kedamaian, tak kau sadari itu ?".
"Ya..." ucapku lirih.
"Tapi aku bukan sedang berbicara dengan egoku, khan ?" tanyaku berharap.
"Kau boleh tak mempercayainya, tapi kau harus percaya aku, tentu saja aku bukan egomu. Bukan juga nalurimu, ego sering memerintahmu bereaksi serupa hewan, sedangkan naluri tidak selamanya membisikkan kebenaran. Karena aku, adalah qolbu yang menempati ruang nuranimu".
"Ach...begitu ! Jadi, menurutmu, tak ada yang perlu kukhawatirkan tentangnya ?".
"Tentu saja !".
"Mengapa kau begitu yakin?".
"Mengapa kau begitu tak yakin?".
"Karena..." aku bingung.
"Kau tak mampu meneruskannya, karena aku pasti lebih tau dari nalurimu, dan kau sebenarnya meragukan dia, kau juga selalu saja menuruti perintah sang ego, atau bahkan beradu argumen dengannya, percuma saja, kau tau itu. Tapi kau tak mau menghentikannya untuk berhenti memerintahmu layaknya binatang reptil, yang selalu mengandalkan insting, naluri, ego untuk bereaksi. Kau bukan mahluk melata yang rendah, kau selalu mengisi pikiran-pikiranmu dengan makanan-makanan yang bergizi, tidak beracun, sehingga pikiranmu yang sehat akan selalu menuntun langkah dan tindakanmu. Sekarang, lakukanlah shalat shubuh, makanan pertama di fajar ini yang harus kau nikmati, azannya sudah selesai sedari tadi. Biarkan pikiranmu menikmati huruf demi huruf hijaiyah sembari menghantarmu menyongsong mentari pagi ini..! " perintahnya tegas.
"Sudah." jawabku pendek.
"Kapan ? Kau pasti tidak khusyu' karena aku sedang berbicara padamu"
"Tentu saja aku khusyu'...aku tidak membayangkan kau bicara, tapi yang aku bayangkan, betapa beruntungnya aku pagi ini, bisa shalat shubuh tepat waktu, dengan napas yang tak lagi berat seperti lima hari lalu ketika saluran bronkus di dadaku menyempit, dan lendir menggenanginya, sungguh suatu siksaan yang melemahkan nadiku, membuatku nyaris selalu putus asa, takut menghadapi hari tuaku nanti, takut menjadi beban anak-anakku. Tapi ketika shalat tadi - sewaktu kau sibuk menguliahiku - ketika al-fatehah kubaca, kumaknai baris demi baris ayatnya, agar aku bersyukur atas apa yang kurasakan detik itu, momen itu, tak ingin kubayangkan kemarin atau hari esok, juga tak mau aku dengarkan kamu, untuk sementara waktu." aku membela diri.
"Hemm, bagus ! Telah kau praktekkan rupanya teori Eckhart Tolle dalam bukunya The New Earth-The Power of Now" katamu sok tahu.
"Untuk apa kubaca, lalu kuyakini pendapatnya, tapi tidak kupraktekkan, sama saja aku percaya Tuhan itu ada, tapi aku tak mau menuruti perintahNYA..."sahutku tak kalah sok tahunya.
"Kalau begitu, semua rasa was-wasmu akan keadaannya disana, kini sudah reda ?".
"Mereda, iya. Tapi menghilang, belum."kataku yakin.
"Pergilah istirahat kembali, sedari malam, ragamu tidur, tapi pikiranmu tidak kau istirahatkan".
"Bagaimana bisa?" tanyaku bingung.
"Buktinya, subuh tadi, hal yang pertama kau lakukan adalah mengeceknya" pukulannya tepat mengenaiku ! Urghhh...pingin kujitak rasanya, dia ! Selalu benar ! Huh !
"Aku khan sekaligus melihat jam berapa saat itu, di kamarku tak ada jam dinding.." sanggahku.
"Tapi kau langsung tak bergairah, ketika tak ada suatupun kau temukan disana,khan ??" tanyamu menyelidik.
"Aku hanya khawatir akan keadaannya, itu saja. Sama seperti aku mengkhawatirkan sahabat-sahabatku lainnya".
"Dia akan baik-baik saja, kau tahu itu !".
"Tapi dia tak membalas pesanku...dan itu tidak biasanya, semarah apapun dia, tak pernah dia acuh padaku. Dan pagi kemarin, kami seperti biasanya saling menyapa.."aku tak bisa menyembunyikan rasa cemasku.
"Mungkin dia memang tak bisa membalas pesanmu, tapi itu bukan berarti dia dalam bahaya, dia akan baik-baik saja, dengan atau tanpa membalas sapaanmu, perhatianmu, itu kenyataan yang kalian berdua hadapi."
"Begitukah..?"tanyaku kembali tak yakin.
"Ya...,karena raganya akan dijaga oleh seseorang disampingnya, bukan kamu !" pukulannya kali ini benar-benar telak. Tak terbantahkan. Tepat mengenai ulu hatiku, nyeri !
"Kau benar..." ucapku lirih, perlahan airmata jatuh satu persatu, dan akhirnya menggenangi relung-relung hatiku, menyesakkan dadaku serupa lendir yang memenuhi bronkeolus, berat kurasakan.
"Aku rasa, aku akan beristirahat kembali sekarang..." aku memilih menarik selimutku kembali, ketimbang mengetikkan sebaris kalimat di telepon genggamku. Kulirik, 05.00 tepat, masih ada waktu barang satu atau satu setengah jam sebelum menghantarkan hubby berangkat. Kupilih untuk menikmati sisa liburan panjang ini, sebelum tiba waktunya anak-anak kembali masuk sekolah nanti, bukankah sesuatu yang mewah bisa merasakan hangatnya selimut ini, selepas subuh ? .
Aku mencoba memejamkan mata kembali, mengistirahatkan pikiranku, membiarkan suara itu diam, tanpa berniat sedikitpun mengusiknya, aku sudah lelah subuh ini dengannya, dia selalu benar, dan sering kebenarannya itu memojokkan aku. Dan ternyata, aku benar-benar memerlukan istirahat tambahan, lelah sekali kurasa ,hingga ketika bunyi tanda sebuah pesan singkat masuk, getarannya di meja samping tempat tidurku, ikut menggetarkan kepalaku untuk terjaga.
Setengah terpejam, kubaca baris baris kalimat disana, ternyata...Benar ! Sesuatu telah terjadi. Sama seperti ketika beberapa bulan lalu kudapati pesan singkat semacam ini. Tapi kali ini, reaksiku tidak seperti kala itu. Seperti yang dikhutbahkan si "Nurani" tadi, ego dan naluri kadang membimbing kita bereaksi serupa reptil, dan kini, aku tak mau lagi mempercayai ego dan naluriku. Aku memang sedang belajar untuk memperdalam keyakinanku pada qolbuku, dan sekarang, ketika pesan singkat itu kembali kudapati di telepon genggamku, aku mengucap sebaris kalimat untuk menenangkanku "Astaghfirullahalazhim". Kuucapkan dengan kesadaran penuh, sembari kuhirup dalam-dalam oksigen yang ada, agar dadaku penuh olehnya. Kemudian baru kupanggil lagi si "Nurani".
"Rupanya dia sedang berada dalam kesulitan dengan orang di sampingnya. Mengapa ini bisa terjadi lagi..??" tanyaku tak mengerti.
"Hemmm, tidak semua orang bisa berdialog layaknya kau berdialog denganku" jawabmu bijaksana.
"Mengapa begitu - bukankah dia disana juga bisa melakukan seperti yang aku lakukan sekarang?" tanyaku bingung.
"Belum tentu ! Meski dia mungkin lebih baik dalam mengendalikan egonya, bukan berarti dia mempercayai nuraninya, sehingga dia cenderung membiarkan dirinya pasif dalam menyelesaikan segala persoalannya".
"Mengapa dia memilih pasif?" tanyaku tak mengerti.
"Itu juga sebuah pilihan. Memilih untuk tidak menentukan, itu sebuah pilihan sikap. Dan itu yang dilakukannya sekarang" .
"Tapi aku selalu memudahkannya untuk bertindak tidak memilih, tapi mengapa dia masih saja mendapatkan kesulitan dari perempuan itu ?"protesku.
"Itu bukan urusanmu, camkan itu !" perintahmu tegas, nyaris merinding ketakutan aku dibuatnya.
"Apa yang kau lakukan sekarang sudah benar, sudah berada di jalurNYA, teruslah berjuang dalam koridor itu, jangan lagi kau tuntun pikiranmu untuk terpengaruh apapun, siapapun ! Kau sudah berjanji pada dirimu sendiri untuk membiarkannya sebagai sahabatmu, anggaplah dia sama seperti sahabatmu lainnya yang mempunyai kehidupannya sendiri, masalahnya sendiri yang tak bisa kau sentuh. Berhenti mengkhawatirkannya lebih dari itu !" kali ini bukan perintah, tapi lebih pada mengingatkan aku pada janjiku sendiri. Ya, kuakui kau benar (lagi).
"Ya, kau benar, itu bukan urusanku, meski aku yang perempuan itu pertanyakan, tapi itu bukan salahku. Aku tak membohongi siapa-siapa, setidaknya beberapa waktu belakangan ini. Aku sudah berusaha melakukan hal yang jujur, tanpa ada kata 'tapi' **kejujuran tak bersyarat**" kataku meyakinkan aku dan si "Nurani".
"Good !" baru kali ini kau mengangguk setuju.
"Lantas, apa yang akan kau lakukan dengan pesan singkat yang aneh itu?" tanya si "Nurani" ingin tahu.
Aku tersenyum.
"Kau tak perlu khawatir, aku tak akan mengikuti egoku untuk memimpin tindakanku. Aku rasa aku tak perlu membalas pesan singkat itu, karena aku memang tak perlu, dan tak pantas untuk itu !" jawabku mantap.
"Mengapa kau merasa kau bukan seperti yang dia tuduhkan?" tanya nurani menguji argumenku.
"Tentu saja, karena dia bertanya dalam koridor aku layaknya seorang pencuri, dan dia bertanya, mengapa aku mencuri. Padahal, aku samasekali tidak mencuri, tapi aku menerima sesuatu yang sebenarnya dia terima jauh lebih banyak daripada aku, namun dia tidak menyadarinya, dan lebih parah lagi, dia tidak mensyukurinya sebagaimana apa adanya, dia selalu berprasangka buruk ,kalau-kalau ada orang yang akan mengambilnya, dan akhirnya...terjadilah! Jadi,sebenarnya, pada kenyataannya, dia tidak sedang kehilangan sesuatu, tapi pikirannya yang selalu dia cekoki dengan 'makanan beracun' (mungkin berupa bacaan-bacaan demotivasi atau novel-novel picisan tak bermutu atau acara gosip televisi) sehingga pikirannya selalu menuntun tindakannya untuk selalu curiga, sehingga dia menutupi rasa syukur yang sering dia lafazkan dalam doa dan sholatnya..." kataku tanpa koma. Sejenak ku menarik napas, kemudian melanjutkan argumenku,
"Jadi, sebenarnya aku tidak mencuri (hati) dan dia sedang tidak kehilangan (cinta), dia sedang mempertanyakan keberadaan dirinya, yang mulai rapuh, dan secara kebetulan, aku bisa dijadikan 'sasaran tembaknya'. Dan aku tentu saja bisa dengan sangat mudah menghindarinya." kataku dengan yakin.
"Hemmm,begitu. Kau kedengarannya mengasihani perempuan itu.." katamu setengah menuduh.
"Apa untungnya buat aku...? Yang terbaik kulakukan adalah mengambil hikmah dari semua ini. Aku tidak mengasihaninya, tapi mencoba mengerti, mengapa itu bisa terjadi, dan berusaha sekuat tenaga agar kejadian seperti itu tak menimpaku di kemudian hari. Itu lebih baik, ketimbang mengasihani orang lain, padahal mungkin kita tidak lebih baik darinya. Aku akan berdoa, semoga aku tetap bisa teguh dengan janjiku, dan perempuan itu akan bisa menemukan qolbunya untuk menuntunnya bertindak bukan ego yang memimpinnya seperti sekarang ini. Seperti halnya aku, yang selalu ditemani olehmu..." kataku sembari tersenyum ke arah "Nurani'.
"Syukurlah..." katamu lega.
Kulirik jam, 06.37, sepuluh menit berlalu ketika pesan singkat yang aneh tadi kuterima. Dan aku bersyukur, tak kurasakan amarah seperti dulu. Biarlah, beberapa waktu akan kubiarkan kau disana dan dirinya melakukan rekonsiliasi, memasang-masangkan nilai-nilai yang kalian masukkan ke hati kalian dengan tindakan kalian satu sama lain, kudoakan semoga tak terlalu banyak yang perlu khamu benahi, karena aku tahu khamu baik, dan khamu tidak lagi salah seperti dulu.
Hatinya benar-benar sudah tenang sekarang. Dia beranjak bangun dari tempat tidurnya, menghampiri celoteh peri-peri kecilnya yang sudah ramai sedari tadi, memberikan senyuman dan pelukan hangat kepada suaminya,
"Sudah mau berangkat ?"
"Sebentar lagi, selepas kau mandi, ini khan libur anak-anak sekolah, jalanan sepi"
"Oke,aku mandi dulu".
